BerandaRagam MotifBalo Mappagiling
Kain sutra Sengkang bermotif Balo Mappagiling
Foto: dokumentasi buku Lipa' Sabbe Sengkang (Sulvinajayanti, 2020).
Motif Tradisional Kotak besar berisi ragam hias

Balo Mappagiling

Kotak besar berisi ragam hias geometris; menyimpan kisah istri yang menanti suaminya pulang dari rantau.

Bentuk dan ciri

Motif ini menggunakan garis vertikal dan horizontal yang digabungkan sehingga berbentuk seperti Balo Mallobang dengan kotak-kotak besar. Bedanya, di dalam kotak-kotak besar itu terdapat ragam hias geometris berbentuk segitiga dan persegi panjang yang disusun menjadi hiasan. Mappagiling berarti berbalik atau pulang kembali.

Makna motif

Buku sumber mengkaji setiap motif dengan dua lapis makna ala Susanne Langer: makna bersama yang dipahami pemakai (denotasi) dan makna mendalam yang dipahami pengrajin (konotasi).

Denotasi · yang terlihat oleh pemakai

Makna bersama

Membuat seorang suami pulang kembali kepada istrinya, meskipun telah lama berpisah.

Konotasi · yang dipahami pengrajin

Makna mendalam

Motif ini mengabadikan kesetiaan dan harapan: doa keluarga Bugis agar para perantau — yang terkenal gigih berlayar dan berdagang di negeri orang — selalu menemukan jalan pulang ke kampung halaman.

Kisah di baliknya

Alkisah, seorang perempuan Wajo ditinggal pergi suaminya merantau bertahun-tahun lamanya. Dalam meratapi kesedihan sekaligus mencari nafkah, ia menenun kain sutra. Kain itu dititipkannya kepada tetangga yang hendak pergi berdagang. Tanpa disangka, yang membeli kain tersebut di negeri jauh justru sang suami. Ia bertanya kepada penjual: dari mana asal kain ini? “Dari tanah Wajo,” jawab si penjual. Sang suami bertanya lagi: siapa nama perempuan penenunnya? Mendengar jawabannya, ia pun berbalik — mappagiling — pulang menemui istrinya.